Tampilkan postingan dengan label sospol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sospol. Tampilkan semua postingan

09 September, 2009

Jalur Gaza


Judul : Jalur Gaza
Pengarang : Trias Kuncahyono
Penerbit : Kompas
Harga : Rp.65.000,-

Agresi Israel di Jalur Gaza Menyisakan penderitaan rakyat Palestina, terutama anak-anak, kaum perempuan, dan orang tua. Serangan roket Hamas yang tidak akurat dibalas israel dengan "kembang api kematian" , timbullaah penderitaan kehancuran, kematian ! Apakah ini merupakan upaya membasmi kelompok Hamas ataukah bertujuan pembersihan etnis ? Ataukah hendak mempertunjukan superioritas Israel terhadap Palestina? Keganasan Israel selama 22 hari pada Januari 2009 telah menewaskan 1.300 orang, dan ribuan lainnya luka-luka.

Melalui buku ini pembaca akan memperoleh gambaran dengan jelas mengenai konflik Israel dari Palestina. Berawal dari Mesir, Negeri yang kaya akan sejarah. Kemudiansejarah Gaza yang menjadi topik penting, Kemakmuran tanah terjanji, termasuk kota Jabaliya; bumi yang melahirkan gerakan intifada. Serta Berbagai peristiwa yang terkait dalam upaya Perdamaian di Timur Tengah.

Kasus Pembunuhan Munir Kejahatan Sempurna

Judul : Kasus Pembunuhan Munir Kejahatan Sempurna
Pengarang : Wendratama
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Harga :Rp. 44.000,-

Kasus Munir dimulai pada 7 September 2004, ketika lelaki 38 tahun itu meninggal,
dan hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan.

Bagaimana sebenarnya Munir dibunuh?
Siapa pelakunya? Mengapa?
Bagaimana penegak hukum bekerja?

Masyarakat pernah akrab dengan wajah Pollycarpus dan Muchdi Pr. saat keduanya berstatus terdakwa. Kini, Polly telah menjadi terpidana penjara 20 tahun, tapi bersikeras bahwa dirinya difitnah dan akan melanjutkan upaya hukum. Muchdi divonis bebas oleh Pengadilan Negeri, tapi jaksa melakukan kasasi terhadap putusan itu.

Dengan penuturan yang mendalam, Kasus Pembunuhan Munir menceritakan penerbangan panjang Munir menuju Belanda, perjuangan jaksa dan pengacara di pengadilan, wawancara dengan Polly di LP Cipinang dan Sukamiskin, serta pendapat orang-orang yang terlibat atau peduli dengan kasus ini.

20 Mei, 2009

Dari Cijantung Bergerak Ke Istana

Jalan terjal harus dihadapi capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Dalam bukunya, Letjen (Purn) Sintong Panjaitan telah menuding Prabowo merencanakan counter coupd'etat pada Maret 1983. Saat itu Prabowo menengarai Moerdani akan melakukan kudeta dan ia berusaha untuk mengagalkannya. Cara counter coup d'etat ala Prabowo tersebut adalah dengan berencana mengambil sejumlah nama perwira tinggi ABRI. Menanggapi tuduhan itu Prabowo menyatakan, rakyat saat ini sudah pandai dan dapat melakukan penilaianyang objektif. "Saya penganut falsafah Jawa sing becik ketitik, sing olo ketoro artinya yang baik akan ketahuan dan yang buruk juga terlihat," ujarnya. Jika tuduhan itu benar, sebagai ksatria ia tidak akan lari dari tuduhan, hal ini terbukti saat mempertanggungjawabkan kasus penculikan aktivis 1998 di Dewan Kehormatan Perwira. Sikap menahan emosi di saat dirinya teraniaya dan tertuduh merupakan watak yang sulit dicari tandingannya di zaman ini. Letnan Jendral (Purn) Prabowo Subianto memegang teguh falsafah, "Bila gajah bertarung dengan gajah, peladuk (rakyat) mati di tengah." Sebuah kata penting yang mesti dipegang teguh oleh seorang pemimpin. Jalan panjang penuh duri dilewati Prabowo tanpa keluh kesah, layak jika ia maju sebagai calon Presiden RI periode 2009-2014. Pengalaman Prabowo Subianto sebagai seorang prajurit TNI akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang tegas dan pantang menekuk pundak di hadapan bangsa lain. Kariernya sebagai salah satu pengusaha sukses sangat membantu cara pengambilan keputusan mendesak di bidang ekonomi. Kini Prabowo tidak lagi dekat dengan militer justru lekat dengan petani, nelayan, pedagang, dan rakyat yang begitu rindu akan perubahan.

Judul Buku : Dari Cijantung Bergerak KeIstana
Penerbit : GalangPress

Pengrang : Femi Adi Soempeno
Harga : Rp. 54.600,-

HARUS BISA , Seni Memimpin ala SBY

"Ide untuk menulis buku ini datang ketika suatu hari saya membersihkan meja kerja saya, dan menemukan segumpulan nota-nota tulisan tangan SBY yang tersimpan di laci. Presiden SBY sering menulis nota-nota ini dalam rapat Kabinet kepada menteri dan stafnya, umumnya berisi instruksi, klarifikasi, atau meminta dicarikan informasi.

Ketika membenahi nota-nota ini, saya langsung sadar bahwa ini bukan arsip biasa: ini adalah sidik jari dari era politik penting yang kelak akan dipelajari di sekolah dan kampus. Dan sidik jari SBY ini ada dimana-mana: dalam berbagai keputusannya, pidatonya, gebrakannya, pikirannya, tindakannya, konflik batinnya-- semua ini adalah jejak-jejak sejarah yang masih segar di depan mata. Dari sinilah timbul gagasan untuk membuat catatan harian untuk merekam peristiwa-peristiwa di Istana.

Dalam menulis catatan harian ini, saya menjadi semakin terekspos terhadap satu tema dasar: kepemimpinan. Mata saya semakin terbuka bahwa sebagian besar masalah nasional kita sangat berkaitan erat dengan faktor kepemimpinan. Dengan kepemimpinan yang baik, maka krisis akan teratasi, konflik dapat diselesaikan, dan negara semakin maju. Sebaliknya, dengan kepemimpinan yang buruk, korupsi semakin parah, ekonomi jadi terpuruk dan reformasi akan mundur. Faktor kepemimpinan, karenanya, bisa menjadi kunci sukses atau penyebab kegagalan."
- Dr. Dino Patti Djalal.

Judul Buku : Harus Bisa, Seni Memimpin ala SBY
Penerbit : R & W


Pengrang : Dr. Dino Patti Djalal
Harga : Rp. 86.500,-

26 April, 2009

LET ME STAND ALONE

Goresan pena yang menggegerkan dunia karya gadis Amerika yang dilindas Buldozer hidup-hidup demi palestina !

Judul : Let Me Stand Alone
Penulis :Rachel Corrie
Penerbit : Madia
Harga : Rp.101.500,-

"Rachel telah berhasil mengatakan kepada seluruh dunia bahwa penghancuran peradaban manusia sedang berlangsung di Palestina. Rachel , Pengorbanannya tidak sia-sia, karena genderang perjuangannya membahana untuk mengatakan pada dunia bahwa derita di palestina adalah derita kemanusiaan didunia."
-Dr. Siti Fadilah Supari (Menteri Kesehatan RI , Penulis buku, It's Time The World To Change,2008)

Saya bayangkan Rachel di surga, saya bayangkan dia agak sedih.ia dalam umur yang sebenarnya masih ingin pergi dansa, punya pacar dan menggambar komik lagi untuk teman-teman sekerjanya. Tapi disini , di Rafah , ada yang ingin ia stop ; bersalahkah dia?
Beberapa surat kepada ibunya menggambarkan perasaannya yang intens :"Ngeri dan tak percaya, itulah yang kurasakan. Kecewa."ia kecewa melihat "realitas yang tak bermutu dari dunia kita."
Ia kecewa bahwa dirinya ikut serta di kancah itu.
"Sama sekali bukan ini yang aku minta ketika aku datang ke dunia ini" tulisnya ,"bukan ini duni yang mama dan papa inginkan buat diriku ketika kalian memutuskan untuk melahirkanku"
Apa yang mereka inginkan , Rachel, dan apa yang kau minta? berangsur-angsur kaupun tahu: kau tak menghendaki sebuah rumah yang begitu nyaman, begitu "Amerika", hingga si penghuni tak menyadari sama sekali bahwa ia sebenarnya berpartisipasi dalam sesuatu yang keji, yakni "dalam pembantaian ".Itulah sebabnya kau berangkat ke Palestina."Datang kesini adalah sesuatu hal yang lebih baik yang pernah kulakukan," begitu kau tulis pada 27 Februari 2003.
"Maka jika aku terdengar seperti gila, atau bila militer Israel meninggalkan kecenderungan rasialnya untuk tak melukai orang kulit putih, tolong cantumkanlah alasan itu tepat pada keyantaan bahwa aku berada ditengah pembantaian yang aku juga dukung secara tak langsung, dan yang pemerintahku sangat ikut bertanggung jawab."
-Goenawan Mohamad (Budayawan)
"Rachel Corrie adalah sedikit dari orang Amerika yang peduli pada tragedi kemanusiaan di Palestina...perempuan Amerika itu, tewas dilindas (buldozer)."
-HU Republika
*Sebagian keuntungan buku ini disumbangkan untuk pemberdayaan anak yatim*

30 Maret, 2009

Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando

Sintong Hamonangan Panjaitan, yang lahir di Tarutung pada tanggal 4 September 1940, merupakan salah seorang perwira yang banyak melaksanakan operasi tempur, sejak ia lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) Angkatan 63 dengan pangkat letnan dua. Dalam buku ini dikisahkan perjalanan Sintong Panjaitan mulai dari operasi memburu Kahar Muzakar di Sulawesi; penumpasan G30S/PKI di RRI Jakarta, Lubang Buaya dan Jawa Tengah; operasi tempur di Irian dan Kalimantan; hingga operasi antiteror pembajakan pesawat Garuda di Thailand.

Simak pula catatannya sebagai Panglima Kodam IX/Udayana saat Peristiwa Dili 1991, upaya membangun sistem senjata dan perlengkapan ABRI, hingga peralihan kekuasaan dari Soeharto ke BJ Habibie.